RAMADHAN MENYAPA KITA KEMBALI

cropped-523178_10151020503312623_1785242522_n.jpgSejak kecil dahulu kala, kita sering mendengar, menyaksikan, dan bahkan melakukan Ibadah Puasa Ramadhan, masyarakat Islam indonesia yang tercinta ini dan masyarakat islam sedunia pada umumnya mereka telah mengetahui bahwa Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban Ilahi yang telah dikokohkan oleh beberapa dalil Al-Qur’an, Hadits, ataupun Ijma’.

Sehingga tidak pelak lagi, bisa kita simpulkan, bahwa Puasa Ramadhan sejatinya adalah rukun Islam yang tidak memerlukan pembelajaran yang  intensif untuk mengetahui hukum Wajibnya atas setiap orang islam yang Aqil dan Baligh. Namun sebagai pengingat, agar kita tidak lupa bahwa Puasa Ramadhan bukanlah suatu kebiasaan atau adat istiadat, melainkan suatu Ibadah yang mulia, Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa seperti telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, semoga kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. (QS: Albaqarah / 183)

Inilah satu-satunya ayat tentang kewajiban berpuasa yang terdapat di dalam Al-Qur’an,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam mendakwahkan Tauhid selama 10 tahun di kota Makkah, dan menerima perintah Shalat di makkah, ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tidak membawa rukun islam kecuali dua rukun ini saja, yaitu Syahadatain dan Shalat, beliau menemukan orang-orang yahudi berpuasa di madinah dengan tujuan untuk memuliakan hari selamatnya Nabi Musa ‘Alaihissalam dari kejaran Fir’aun, hari itu adalah Hari ‘Asyura, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda: “Aku lebih utama dari mereka atas Musa”, beliaupun akhirnya berpuasa dan memerintahkan para Shahabatnya berpuasa. Namun ketika ayat ini turun mewajibkan berpuasa Ramadhan, maka kewajiban puasa ‘Asyura pun terhapus dan berganti hukum menjadi Sunnah.

Dalam ayat ini wahai saudaraku, Allah sang maha pencipta membukanya dengan sebuah panggilan iman: “Wahai orang-orang yang beriman”, panggilan yang menggugah jiwa setiap orang yang beriman untuk dapat menerima dan mengagungkan perintah puasa itu sendiri, dan sebagai peringatan atas mereka terhadap konsekwensi dari keimanan. Allah berfirman:

  إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (النور51)

Sesungguhnya perkataan orang-orang beriman apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasulnya agar mereka berhukum di antara mereka dengannya adalah mereka akan berkata kami mendengar dan mentaatinya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS: An-nur / 51).

Konsekwensi keimanan adalah mendengar dan mentati perintah zat yang memberi perintah, yakni Allah ‘Azza Wajalla

Esensi Puasa Ramadhan

Kemudian Allah mengakhiri firmannya dalam ayat di atas dengan sebuah tujuan yang begitu tinggi yaitu ketaqwaan, orang-orang beriman semestinyalah mengetahui nilai ketaqwaan di sisi Allah ‘Azza Wajalla, nilai taqwa inilah tujuan terakhir dari jiwa-jiwa yang senantiasa berharap akan surga sedangkan puasa Ramadhan adalah salah satu jalan menuju ketaqwaan.

Puasa Ramadhan adalah jalan terbuka untuk meraih ketaqwaan karena beberapa alasan, yaitu

  1. Berpuasa berarti taat kepada Allah dan menjauhi laranganNya.
  2. Berpuasa dapat melatih seseorang dalam upaya menghadirkan  Muraqabatullah dalam setiap waktu.
  3. Berpuasa dapat mempersempit jalan Setan dalam tubuh manusia, karena setan juga berada di pembuluh darah mereka, melemahkan badan untuk berbuat Maksiat kepadaNya.
  4. Berpuasa membangkitkan nilai peduli untuk berbagi dengan orang-orang yang kelaparan.

Imbalan Pahala Berpuasa.

Sudah menjadi bagian dari tabiat manusia, ia selalu menjadi tertarik dan bersemangat ketika suatu perbuatan dibarengi dengan iming-iming imbalan, namun sayang, manusia lebih cendrung dengan hal yang bersifat konkrit dan menjadi malas dengan hal yang bersifat sebaliknya walaupun itu pasti adanya, dan orang yang sepenuhnya beriman sangat yakin dan percaya dengan imbalan pahala Allah walaupun tak dapat terlihat secara langsung di kehidupan dunia ini. Maka kabar gembira untukmu wahai orang-orang yang beriman, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan kepada kita kabar gembira kepada orang-orang yang berpuasa, Beliau bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه البخاري)

Dari Abi Hurairah beliau bersabda: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “siapa saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampunkan. HR: Imam Bukhari

Inilah imbalan pahala bagi orang-orang yang berpuasa, yakni pengampunan dosa yang merupakan perkara yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia, baik kafir ataupun muslim, lihatlah, bagaimana dalam sebuah agama yang sesat sekalipun, terdapat  dalam keyakinan pemeluknya keharusan menghapus dosa dengan berbagai macam cara, ada yang dengan cara menebusnya ke Rahib, dan bahkan ada yang dengan cara menyembah berhala yang mereka buat sendiri yang di dasari dari keyakinan yang terbangun dari khurafat dan budaya nenek moyang. Maka patutlah kita bersyukur, Allah telah membuatkan kita banyak jalan untuk menghapus dosa, di antaranya dengan berpuasa yang tulus hanya kepada Allah semata.

Dalam sebuah hadits pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda

عَنْ سَهْلٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُون لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ. (رواه البخاري)

Artinya: dari Sahl – Radhiyallahu ‘Anhu – dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang di sebut dengan pintu Rayyan, pada hari kiamat kelak orang-orang yang berpuasa memasuki surga melaluinya, tidak seorang pun memasuki surga melaluinya selain dari mereka, dikatakan kepada mereka: “manakah orang-orang yang berpuasa?” maka mereka pun berdiri, tiada seorang pun yang memasuki surga melaluinya selain mereka, maka jika mereka telah masuk, pintu itu di kunci sehingga tidak seorang pun memasuki surga melaluinya.” (HR: Imam Bukhari)

Siapakah yang tidak mendamba surga? Semua manusia dari yang kafir sampai yang mukmin berharap akan surga, semua bahasa yang ada di bumi ini memaknakan kata surga sebagai puncak kehidupan yang terindah, dari terdapatnya nama “surga” itu sendiri telah membuktikan keberadaannya yang hakiki, bukan mitos, dongeng ataupun berita hoak. Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa sebuah pintu bernama Rayyan telah tersedia di surga hanya untuk orang-orang yang berpuasa Ramadhan. Semoga kita termasuk ke dalam golongan mereka. jadi, imbalan berikutnya bagi mereka yang berpuasa Ramadhan ialah surga.

Puasa Seutuhnya

Di sini patut kita merenung sejenak dengan puasa-puasa yang telah kita lakukan dari tahun ke tahun, apakah semua ibadah puasa kita tersebut dapat kiranya sebagai pengampun dosa dan jalan masuk surga dari pintu Rayyan? Meskipun kita diharuskan Husnuzzhon kepada Allah, namun ada baiknya kita mawas diri dari kesalahan dan kekeliruan yang sangat bisa menodai ketulusan kita berpuasa, selain makan minum dan berhubungan intim, mawas diri dari berdusta dan lainnya pun perkara yang harus kita jauhi sehingga puasa tersebut menjadi utuh sehingga kelak bisa mengantarkan kita ke pintu Royyan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah – Radhiyallahu ‘Anhu- beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam pernah bersabda: “Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan berbuat dengan kedustaan, maka tiadalah bagi Allah suatu hajat pada seorang yang meninggalkan makanan dan minumannya (HR: Imam Bukhari)

Sangat disayangkan sekali, seorang telah menahan dirinya dari perkara-perkara yang dapat membatalkan puasa lalu kemudian pada akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa puasanya tidak diperhitungkan oleh Allah hanya karena sebab berdusta dan berperilaku yang tidak jujur, ini terjadi semata karena berdusta dan menipu adalah dua perkara yang menyelisihi tujuan puasa itu sendiri, yakni bertaqwa. Layaknya seorang yang ingin kesembuhan, ia menjalankan petunjuk dokter namun di lain hal ia mengacuhkan pantangan pantangan yang harus di tinggalkan demi proses kesembuhan yang baik, jika seperti ini, lalu apakah yang akan terjadi? Dapatkah kesembuhan akan terjadi dengan baik?

Sekali lagi, marilah kita hindarkan segala hal yang tercela yang dapat menghalangi puasa kita sebagai pengampun dosa dan jalan ke pintu Rayyan. Puasa seutuhnya ialah puasa yang dapat membentuk pribadi yang bertauhid dengan sempurna, beragama dengan Ihsan, dan berperilaku yang mulia dan dermawan.

Semoga Bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s