Isbal antara Mubah, Makruh, dan Haram

Isbal antara Mubah, Makruh, dan Haram

Terurainya ujung pakaian melebihi mata kaki, khususnya pada pakaian bawahan seperti celana dan sarung, atau jubah, telah populer dengan sebutan Isbal, telah ramai celetukan Hukum atas Isbal ini, dan bahkan sebagian manusia telah dengan mantap mengokohkan diri bahwa Isbal bukan ciri Ahlussunnah Waljama’ah.

Berikut ini adalah sebuah penuturan singkat yang mewakilkan berbagai pendapat ulama terdahulu tentang Hukum Isbal, yang kami terjemahkan dari fatwa yang terselip di sebuah website beralamat: Islamweb.net, semoga ini dapat menambah pengetahuan kita, dan bisa melapangkan hati. Amiin.

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فالذي ذهب إليه أكثر أهل العلم أن أحاديث النهي عن الإسبال مقيدة بالخيلاء، فإذا انتفى الخيلاء لم يكن الإسبال محرماً، واختلفوا بعد ذلك في الكراهة وعدمها، وممن ذهب إلى عدم التحريم إذا لم يكن للخيلاء: الشافعي وأحمد، وممن ذكر ذلك من المالكية: سليمان بن خلف الباجي في كتابه المنتقى شرح الموطأ والنفرواي في الفواكه الدواني على رسالة ابن أبي زيد القيرواني.

yang telah menjadi pendapat mayoritas ulama, bahwa hadits-hadits yang melarang Isbal Muqayyadah (dikaitkan) dengan Khuyala (kesombongan),  jika terlepas dari kesombongan, maka Isbal tidak haram, kemudian mereka (mayoritas ulama) berbeda pandangan tentang Hukum Makruh atau tidaknya Isbal ( tanpa sombong ), di antara mereka yang berpendapat tidak haramnya Isbal jika bukan untuk takabbur adalah: Imam as-Syafi’I dan Ahmad, sementara dari kalangan madzhab Malikiyyah yang menyebutkan (pendapat yang senada dengan kedua imam tadi)  adalah Sulaiman Bin Khalf al-Baji dalam kitabnya Almuntaqa Syarhul Muwattha’, dan an-Nafrawi di kitab Al-fawakihud Dawani ‘Ala Risalati Bni Abi Zaid al-Qirwani

ومن الشافعية: الإمام النووي وشيخ الإسلام زكريا الأنصاري والإمام شهاب الدين الرملي والحافظ ابن حجر الهيتمي وغيرهم كثير.

dan dari Madzhab as-Syafi’iyyah mereka adalah: Imam an-Nawawi, Syaikhulislam Zakariyya al-Anshari dan Imam Syihabuddin ar-Ramli dan Al-hafidz Ibnu Hajar al-Haitami dan banyak lagi yang lainnya.

وممن نص على ذلك من الحنابلة: الإمام ابن قدامة في المغني وشيخ الإسلام ابن تيميةفي شرح العمدة والرحيباني في مطالب أولي النهى وابن مفلح في الآداب الشرعيةوالمرداوي في الإنصاف.

dan di antara ulama Madzhab Hanabilah yang mencantumkan pendapat ini adalah: Imam Ibnu Qudamah di kitab Al-Mughni, dan SyaikhulIslam Ibnu Taimiyyah di kitab Syarhul ‘Umdah, dan ar-Ruhaibani di kitab Mathalibu Ulinnuha, dan Ibnu Muflih di kitab al-Adabus Syar’iyyah, dan al-Mardawi di kitab Al-inshaf.

وإليك طرفاً من أقوالهم في المسألة ، قال الباجي في المنتقى: وقوله صلى الله عليه وسلم الذي يجر ثوبه خيلاء يقتضي تعليق هذا الحكم بمن جره خيلاء، أما من جره لطول ثوب لا يجد غيره، أو عذر من الأعذار، فإنه لا يتناوله الوعيد.

Dan berikut ini kami ketengahkan kepada anda sedikit dari pendapat-pendapat mereka dalam masalah ini, Imam al-Baji berkata dalam kitab al-Muntaqa: “dan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Yang mengulurkan pakaiannya karena Takabbur”  menghasilkan keterkaitannya hukum (haramnya Isbal) ini dengan siapa saja yang mengulurkannya karena takabbur, adapun orang yang mengulurkannya karena memang begitu ukuran panjang pakaian, dimana ia tidak memiliki yang lainnya, atau karena ada kendala yang menghalanginya, maka ia tidak terkena oleh ancaman  itu.

وتعقب العراقي ابن العربي حيث ذهب إلى تحريم الإسبال مطلقاً بخيلاء أو بغير خيلاء ، فقال العراقي : وهو مخالف لتقييد الحديث بالخيلاء.

Dan al-Iraqi menanggapi pendapat Ibnul ‘Arabi yang berpendapat Haramnya Isbal secara mutlak, yaitu karena takabbur atau pun tidak, al-Iraqi berkata: “dan dia (pendapat Ibnul ‘Araby) menyelisihi (bentuk) keterkaitannya hadits tersebut dengan takabbur.

وقال ابن قدامة : ويكره إسبال القميص والإزار والسراويل؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر برفع الإزار، فإن فعل ذلك على وجه الخيلاء حرام.

Imam Ibnu Qudamah berkata: dan diMakruhkan Isbal pada baju (Jubah), sarung, dan pada celana, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar meninggikan sarung, dan jika ia melakukan hal itu atas dasar takabbur, maka hukumnya Haram.

وقال الشوكاني في نيل الأوطار: وقد عرفت ما في حديث الباب من قوله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر : إنك لست ممن يفعل ذلك خيلاء وهو تصريح بأن مناط التحريم الخيلاء، وأن الإسبال قد يكون للخيلاء، وقد يكون لغيره، فلابد من حمل قوله”فإنها من المخيلة” في حديث جابر بن علي أنه خرج مخرج الغالب، فيكون الوعيد المذكور في حديث الباب متوجهاً إلى من فعل ذلك اختيالاً، والقول : بأن كل إسبال من ا لمخيلة أخذاً بظاهر حديث جابر ترده الضرورة، فإن كل أحد يعلم أن من الناس من يسبل إزاره مع عدم خطور الخيلاء بباله.

Dan Imam Syaukani berkata di Nailul Authar: “dan kamu telah mengetahui keterangan yang terdapat pada hadits dalam bab ini, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Abi Bakrin: “Sungguh engkau bukan termasuk yang melakukan (Isbal) itu karena sombong”, ini adalah suatu keterangan yang jelas bahwa Manathuttahrim (titik berat pengharaman Isbal) adalah karena takabbur. Sedangkan  Isbal itu sendiri  bisa terjadi dengan motivasi takabbur , dan bisa juga tidak, (dari itu) maka Hadits yang bermakna “Sesungguhnya (Isbal) itu bagian dari Makhilah (takabbur)” yang terdapat dalam riwayat Jabir bin ‘Ali semestinya harus dikategorikan ke dalam konteks yang Kharaja Makhrajal Ghalib (suatu hal yang sering terjadi menurut kebiasaan, lihat Qaidah: Alkalamu idza kharaja Makhrajal Ghalib fala mafhuma lahu), dengan begitu maka ancaman yang tersebut pada hadits bab ini, akan menjadi tertuju kepada siapa saja yang melakukan itu karena takabur, adapun pendapat yang menyebutkan bahwa setiap Isbal adalah bagian dari takabur dengan berpijak pada lahiriyah hadits Jabir, ini terbantahkan oleh darurat keadaan, yaitu, setiap orang menyadari bahwa sebagian orang ada yang mengisbalkan sarungnya tanpa terbersik rasa takabur sedikitpun dalam angannya”.

ثم قال: وبهذا يحصل الجمع بين الأحاديث وعدم إهدار قيد الخيلاء المصرح به في الصحيحين.
ثم قال: وحمل المطلق على المقيد واجب، وأما كون الظاهر من عمرو أنه لم يقصد الخيلاء فما بمثل هذا الظاهر تعارض الأحاديث الصحيحة.

Beliau kemudian melanjutkan pendapatnya: “dan dengan cara ini maka akan tercapai keserasian makna antara beberapa hadits tanpa menyia-nyiakan Qiad (kaitan) takabur yang tersebut dengan jelas di dalam Shahihain (Shahih Bukhari/muslim). Beliau seterusnya berkata: “dan mengasumsikan bentuk Mutlak (dari suatu dalil) ke dalam bentuk Muqayyad adalah wajib, adapun kesimpulan lahiriyyah dari Hadits ‘Amr (Bin Zurarah Al-anshori) yang berarti bahwa ia tidak memaksudkan (isbalnya) dengan  takabur, maka bentuk lahiriyyah seperti ini (tidak boleh) menyelisihi hadits-hadits yang Shahih.

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في شرح العمدة 4/363 : وهذه نصوص صريحة في تحريم الإسبال على وجه المخيلة، والمطلق منها محمول على المقيد، وإنما أطلق ذلك ؛ لأن الغالب أن ذلك إنما يكون مخيلة.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di dalam Syarh al-Umdah 4/363 beliau menjelaskan: “dan naskah-naskah (hadits) ini dengan jelas menunjukkan keharaman Isbal DALAM BENTUK Makhilah (takabur), kemutlakan dari naskah-naskah tersebut (harus) diasumsikan ke dalam bentuk yang Muqayyad. Di Mutlakkan-nya keharaman Isbal tersebut tidak lain karena biasanya Isbal tidak akan dilakukan kecuali dengan Makhilah/takabur.

ثم قال: ولأن الأحاديث أكثرها مقيدة بالخيلاء فيحمل المطلق عليه، وما سوى ذلك فهو باقٍ على الإباحة، وأحاديث النهي مبنية على الغالب والمظنة.

Beliau selanjutnya berkata: dan karena Hadits-hadits (tentang Isbal) kebanyakan Muqayyad/terkait dengan Khuyala’ sehingga (dengan alasan inilah) hadits yang Muthlaq dibawa (hukumnya) kepada hadits-hadits yang Muqayyad, selain dari yang demikian itu, maka ia tetap pada (Hukum) Ibahah/boleh, sedangkan hadits-hadits larangan (Isbal) yang ada, (itu hanya terlarang karena) dikokohkan atas dasar kebiasaan dan sebagai tempat yang rentan (untuk menjadi takabur).

ثم قال: وبكل حال فالسنة تقصير ا لثياب، وحدِّ ذلك ما بين نصف الساق إلى الكعب، فما كان فوق الكعب فلا بأس به، وما تحت الكعب في النار.

Beliau seterusnya berkata: apapun keadaannya, namun yang sunnah adalah memendekkan pakaian, dan ukuran memendekkannya adalah antara setengah betis sampai kedua mata kaki,pakaian yang berada di atas (menutupi) mata kaki tidaklah masalah, pakaian yang di bawah (melebihi) mata kaki ancamannya di neraka.
ومن العلماء من فهم من نصوص النهي تحريم الإسبال مطلقاً، ومنهم: الإمام ابن العربي والإمام الذهبي ، والإمام ابن حجر العسقلاني وهو قول له حظ كبير من النظر، وإن قل القائلون به؛

Sebagian Ulama ada yang memahami dari konteks larangan (Isbal) sebagai keharaman Isbal secara Mutlak, mereka adalah: Imam Ibnul ‘Araby dan Imam adz-Dzahaby dan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalany, pendapat ini (haram Isbal secara mutlak) adalah pendapat yang memiliki bobot besar untuk dipertimbangkan walaupun sedikit yang berpendapat dengannya.

 لأن النهي عن الكل ورد في حديث واحد، وهو قوله صلى الله عليه وسلم:”إزرة المؤمن إلى أنصاف ساقيه، لا جناح عليه ما بينه وبين الكعبين، وما أسفل من الكعبين في النار” يقول ثلاثاً: “لا ينظر الله إلى من جر إزاره بطراً” رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه واللفظ له.

Sebab larangan atas Isbal dalam semua keadaan tertuang di dalam satu hadits, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Sarung orang beriman (batasnya) sampai setengah betisnya, tiada dosa atasnya selama (berada) di antara setengah betis dan kedua mata kaki, yang (menjulur) lebih ke bawah dari kedua mata kaki, (ancamannya adalah) di nereka, Rasulullah mengucapakan tiga kali: “Allah tidak akan melihat kepada siapapun yang menjulurkan sarungnya dengan sombong.(HR:Ahmad, Abu dawud, dan Ibnu majah, dan lafadz ini miliknya.)

قال الحافظ ابن حجر في الفتح: (وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة، وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضاً).

Al-hafidz Ibnu Hajar berkata di Fathulbari: di dalam hadits-hadits ini (menerangkan) bahwa mengIsbalkan sarung untuk takabur adalah dosa besar, adapaun Isbal tidak untuk sombong, maka lahiriyyah dari hadits-hadits tersebut (menunjukkan atas) keharamannya juga.

وقال ابن العربي رحمه الله: (لا يجوز للرجل أن يجاوز بثوبه كعبه، ويقول: لا أجره خيلاء، لأن النهي تناوله لفظاً، ولا يجوز لمن تناوله اللفظ حكماً أن يقول لا أمتثله، لأن العلة ليست فيَّ، فإنها دعوى غير مسلمة، بل إطالته ذيله دالة على تكبره) انتهى.

Imam Ibnul ‘Araby Rahimahullah, beliau berkata: “tidak boleh seseorang itu pakaiannya melewati mata kakinya, (sebagai alasan) ia berkata: “aku tidak menjulurkannya dengan sombong,” sebab larangan (Isbal tidak dengan sombong juga) secara lafaz terdapat dalam hadits, dan tidak boleh bagi siapapun  pada suatu hukum yang tercakupi oleh hadits mengatakan: “aku tidak akan mengaplikasikannya, karena ‘illah (penyebab diharamkannya) tidak ada padaku,” (Ungkapan ini) sesungguhnya sebuah dakwa yang tidak bisa diterima, Bahkan (sebenarnya), panjangnya ujung pakaiannya menunjukkan atas kesombongannya.”

Pembaca yang budiman: perkataan Imam Ibnul ‘Araby di atas sepertinya dapat kita temukan jawabannya di dalam ucapan Imam Syaukani di atas.(pent.)

وقد نقله ابن حجر رحمه الله، وعلق عليه بقوله: (وحاصله أن الإسبال يستلزم جر الثوب، وجر الثوب يستلزم الخيلاء، ولو لم يقصد اللابس الخيلاء، ويؤيده ما أخرجه أحمد بن منيع من وجه آخر عن ابن عمر في أثناء حديث رفعه: “وإياك وجر الإزار فإن جر الإزار من المخيلة”

Perkataan Ibnul’Araby ini telah dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah, dan beliau memberikan tanggapan dengan ucapannya: “Hasilnya, bahwa Isbal  mengharuskan terulurnya pakaian, dan terulurnya pakaian mengharuskan (terjadinya) takabur walaupun si pemakai tidak memaksudkan sombong, ini didukung oleh hadits yang riwayatkan Ahmad Bin Mani’ dari jalan Riwayat lain dari Ibnu Umar, (tepatnya) pada pertengahan hadits yang (statusnya) diMarfu’kan (Hadits yang terangkat periwayatannya sampai ke Rasulullah) oleh beliau (Ibn Umar): “Janganlah menjulurkan sarung, maka sesungguhnya menjulurkan sarung adalah bagian dari sombong.”    

وأخرج الطبراني من حديث أبي أمامة : “بينما نحن مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ لحقنا عمرو بن زرارة الأنصاري في حلة إزار ورداء قد أسبل، فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يأخذ بناحية ثوبه ويتواضع لله، ويقول: “عبدك وابن عبدك وأمتك” حتى سمعهاعمرو فقال: يا رسول الله إني حمش الساقين فقال: “يا عمرو إن الله قد أحسن كل شيء خلقه، يا عمرو إن الله لا يحب المسبل” الحديث.

Imam ath-Thabrani meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Abi Umamah: Manakala kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika itu kami bertemu dengan ‘Amr Bin Zurarah al-Anshari, saat itu beliau mengenakan sarung dan Rida’ (selendang) yang Isbal, (hal ini membuat Rasulullah akhirnya) mengambil ujung pakaian (beliau sendiri), beliau bertawadu’ kepada Allah dan beliau bersabda: (Ya Allah aku adalah) hambamu, dan anak dari hambamu, dan anak dari hamba perempuanmu,” ‘Amr pun mendengar ucapan tersebut, ia berkata: “Ya Rasulallah sesungguhnya betisku kecil, Rasulallah pun menjawab: “Ya ‘Amr sesungguhnya Allah telah membaguskan segala sesuatu yang telah diciptakannya, ya ‘Amr sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang Isbal”

وأخرجه أحمد من حديث عمرو نفسه، لكن قال في روايته: “عن عمرو بن فلان” وأخرجه الطبراني أيضاً فقال: “عن عمرو بن زرارة ” وفيه ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم بأربعة أصابع تحت الأربع، فقال: يا عمرو هذا موضع الإزار ، الحديث، ورجاله ثقات، وظاهره أن عمراً المذكور لم يقصد بإسباله الخيلاء، وقد منعه من ذلك لكونه مظنته.

Dan Imam Ahmad menyebutkan hadits yang dari riwayat ‘Amr ini sendiri, namun  pada riwayat ini beliau berkata: “dari ‘Amr bin Fulan”. Imam ath-Thabrani juga meriwayatkannya, beliau berkata: (Hadits ini) “dari ‘Amr bin Zurarah,” dan pada hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memukulkan (meletakkan) empat jari beliau di bawah lutut ‘Amr kemudian beliau bersabda: ya ‘Amr! Inilah (batasan) tempat sarung, kemudian beliau meletakkan empat jari beliau (yang lain) di bawah empat jari (yang pertama) selanjutnya beliau bersabda: ya ‘Amr!! Di sini (batasan) tempat sarung. Alhadits. para ulama yang meriwayatkan hadits ini semuanya Tsiqah, dan dari segi lahiriyyah konteksnya, bahwa (beliau) ‘Amr yang tersebut dalam hadits tidak memaksudkan Isbalnya sebagai kesombongan, namun Rasulullah tetap melarangnya dari Isbal, karena isbal rawan dari kesombongan.

وأخرج الطبراني من حديث الشريد الثقفي قال: أبصر النبي صلى الله عليه وسلم رجلاً قد أسبل إزاره فقال: “ارفع إزارك” فقال إني أحنف تصطك ركبتاي، قال: “ارفع إزارك فكل خلق الله حسن” وأخرجه مسدد وأبو بكر بن أبي شيبة من طرق عن رجل من ثقيف لم يسم وفي آخره: “وذاك أقبح مما بساقيك” انتهى كلام الحافظ رحمه الله.

Dan Imam at-Thabrani meriwayatkan dari hadits asy-Syuraid ats-tsaqafi, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang yang isbal sarungnya, beliau bersabda: tinggikan sarungmu, orang itu menjawab: “sungguh kakiku bengkok, kedua lututku bersentuhan, beliau bersabda: “tinggikan sarungmu, semua ciptaan Allah itu bagus” dan hadits ini di riwayatkan juga oleh Musaddad dan Abu Bakr bin Abi Syaibah melalui beberapa jalur periwayatan dari seorang yang berasal dari Tsaqif  yang tidak disebutkan namanya, di akhir hadits ini disebutkan: “Isbal itu lebih buruk dari pada cacat yang terdapat di kedua betismu”. Demikianlah keterangan dari Al-hafidz Rahimahullah.

وهذه الأحاديث كما قال الحافظ ظاهرة في تحريم الإسبال، ولو كان لغير الخيلاء.
وإذا كان الإسبال مظنة الخيلاء، وكان غالب الناس يفعلونه خيلاء كما سبق في كلام شيخ الإسلام وغيره، كان الإفتاء بمنعه وتحريمه قولاً قوياً مؤيداً بما سبق من الأحاديث.

Hadits-hadits ini dengan jelas mengharamkan Isbal seperti yang telah dikemukakan oleh al-Hafidz Ibn Hajar, sekalipun dengan tanpa untuk sombong, dan ketika Isbal merupakan perkara yang rawan dari kesombongan, maka kebanyakan orang-orang melakukannya dengan sombong, seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikhul islam dan yang lainnya, maka Fatwa melarang Isbal dan fatwa haram Isbal adalah pendapat yang kuat dan dikokohkan dengan beberapa hadits yang telah disebutkan.

ومن أسبل ثوبه ثم زعم أنه لا يفعله خيلاء لم يسلَّم له ذلك، فإن الإسبال يستلزم الخيلاء كما سبق، وأما فعل أبي بكر رضي الله عنه فتوجيهه كما قال الذهبي رحمه الله في سير أعلام النبلاء

siapa saja yang Isbal pakaiannya, kemudian ia beranggapan bahwa dirinya tidak melakukan itu dengan sombong, maka sikap ini tidak bisa diterima, karena Isbal itu sendiri melazimkan kesombongan, adapun prihal yang dilakukan oleh Abu Bakr Radhiyallahu ‘Anhu maka pengertian tepatnya adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam adz-Dzahabi Rahimahullah dalam Siyaru a’laaminnubala’ berikut ini:

(3/234): (وكذلك نرى الفقيه المترف إذا ليم في تفصيل فرجية -نوع من اللباس- تحت كعبيه، وقيل له: قد قال النبي صلى الله عليه وسلم: “ما أسفل الكعبين من الإزار ففي النار” يقول: إنما قال هذا فيمن جر إزاره خيلاء وأنا لا أفعله خيلاء. فنراه يكابر ويبرئ نفسه الحمقاء، ويعمد إلى نص مستقل عام فيخصه بحديث آخر مستقل بمعنى الخيلاء، ويترخص بقول الصديق: (إنه يا رسول الله يسترخي إزاري) فقال: “لست يا أبا بكر ممن يفعله خيلاء” فقلنا: أبو بكر رضي الله عنه لم يكن يشد إزاره مسدولا على كعبيه أولاً ، بل كان يشده فوق الكعب، ثم فيما بعدُ يسترخي. وقال عليه الصلاة والسلام: “إزرة المؤمن إلى أنصاف ساقيه لا جناح عليه فيما بين ذلك وبين الكعبين” ومثل هذا في النهي لمن فصل سراويل مغطياً لكعابه، ومنه طول الأكمام زائداً، وتطويل العذبة، وكل هذا من خيلاء كامن في النفوس، وقد يعذر الواحد منهم بالجهل، والعالم لا عذر له في تركه الإنكار على

الجهلة) انتهى كلام الذهبي رحمه الله.
والله أعلم.

(3/ 234):

Demikian juga halnya dapat kita lihat pada seorang ahli fiqih yang keras kepala (ngeyel), jika ia dipersalahkan karena ukuran Furujiyyah (jenis pakaian) yang menjulur hingga di bawah kedua mata kakinya, ketika dikatakan padanya : benar-benar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: “apa saja yang terdapat di bawah mata kaki dari jenis pakaian maka itu di neraka” ia si ahli fikih ini akan menjawab: Nabi mengatakan ini hanya kepada orang yang melebihi sarungnya dengan sombong, sedangkan aku tidak melakukannya dengan sombong. Reaksi yang dapat kita saksikan adalah ia akan membantah, dan berusaha membebaskan jiwanya yang dungu dari kesalahan, ia kemudian akan berpegang pada dalil tersendiri yang bersifat Umum, lantas keumuman tersebut ia khususkan dengan hadits lain tersendiri yang mengandung  makna sombong, ia akan mencari keringanan dengan dalih ucapan Ash-shiddieq: “ sarungku ya Rasulallah melorot dengan sendirinya” nabi bersabda: kamu tidaklah termasuk orang yang melakukannya dengan sombong”.

kita katakan kepadanya: Abu Bakrin Radhiyallahu ‘Anhu pada awalnya tidaklah beliau memakai sarungnya dengan terurai sampai di bawah dua mata kaki, namun beliau memakainya sampai di atas mata kaki, baru kemudian setelahnya terurai melorot.  Dan Nabi bersabda: “Batas sarungnya seorang mukmin sampai setengah dari kedua betisnya, tidak ada dosa atasnya pada sarung yang berada di antara betis dan dua mata kaki. Dan larangan seperti pada hal ini (isbal)  juga berlaku pada orang yang membuat celananya berukuran menutup mata kakinya, termasuk juga memanjangkan lengan berlebihan, memanjangkan ‘Adzbah (ujung Imamah atau sorban), semua hal ini merupakan bagian dari Khuyala’ yang tersembunyi di dalam jiwa, mungkin saja seorang dari mereka (ahli fikih) dapat di’Udzurkan karena tidak tahu, adapun orang berilmu maka tiada ‘Udzur baginya meninggalakan peng-ingkaran atas orang-orang yang tidak tahu. Demikianlah perkataan imam Adz-dzahabi. Wallaahu A’lam.

Intisari

  1. Ulama bersepakat bahwa Isbal disertai sombong hukumnya Haram
  2. Isbal yang tidak disertai dengan sombong hukumnya diperdebatkan oleh para ulama sebagai berikut:

-        Hukumnya Makruh

-        Hukumnya Haram

  1. Sebab khilaf ini terjadi ialah karena adanya beberapa keterangan hadits yang bersifat umum atas terlarangnya Isbal di samping juga terdapat banyak hadits yang keterangannya bersifat lebih meng-khususkan batasan keumuman pada hadits larangan tersebut, sedangkan telah disepakati oleh ulama Ushul bahwa jika ada suatu Nash bersifat umum dan lainnya bersifat Khusus maka hendaklah keumuman Nash tersebut disederhanakan hukumnya ke Nash yang khusus. Namun sayangnya kesepakatan ulama atas kaedah ushul ini tidak memadamkan khilaf, sebab di situ telah muncul pertanyaan baru lagi, apakah kaedah ini sah dan bisa berlaku atas hadits-hadits larangan Isbal secara keseluruhan?

Anda boleh memilih namun mengikuti Sunnah adalah pilihan yang paling tepat

Benar, anda boleh memilih pendapat sebab sebuah fatwa tidak bersifat mengharuskan,  karena bisa jadi hukum yang tidak difatwakan di sini adalah yang benar.

Antara akhlaq dan cingkrang

Banyak dikeluhkan, bahwa orang cingkrang tidak ber-etika, mentang-mentang atas nama sunnah semua aturan resmi dilabrak dan bahkan yang lebih menyedihkannya lagi setiap bertemu dengan saudara seislam maka yang paling pertama ia lakukan ialah menengok ke bawah, dia lupa bahwa sunnah ketika bertemu adalah berjabat tangan dengan wajah antusias dibarengi senyuman, dan yang lebih memprihatinkan lagi, ada sebagian orang awam mengaku diri salafy, menurutnya bahwa siapa saja yang isbal dan tidak sependapat dengan fatwa ustadznya niscaya orang tersebut bukanlah Ahlussunnah sehingga pantas untuk tidak diberikan ramah tamah. Semoga Allah tidak memperbanayak orang seperti ini.

Akhirnya, semoga uraian singkat tentang hukum Isbal di atas bisa menjadi bekal ilmu yang bermanfaat, fatwa haramnya Isbal secara muthlaq tidak akan menghapus khilaf yang ada, sebab khilaf dalam masalah ini adalah khilaf yang pantas untuk di hargai dan bukan penentu seorang akan menjadi ahli bid’ah atau ahlussunnah.

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين

( Mohon dikoreksi jika ada yang keliru )

About these ads

One thought on “Isbal antara Mubah, Makruh, dan Haram

  1. Masya Alloh jamiil, teruskan akhi..!!
    Kita tunggu postingan selanjutnya. Alloh yubaarik fiik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s